Anak nelayan biasanya ikut menjaga bagan pada hari libur sekolah. Selama di bagan, ia mengerjakan beberapa tugas. Pertama, menyalakan lampu-lampu yang berguna untuk menarik perhatian ikan agar mendekati jaring. Setelah menyalakan lampu, ia menurunkan jaring ke bawah bagan untuk menangkap ikan. Apabila tugasnya sudah selesai, anak nelayan bisa bersantai sambil memancing cumi dengan pancing buatannya.
Anak nelayan sudah bersahabat dengan bagannya. Ketika bagan bergoyang-goyang tertiup angin laut, ia tenang-tenang saja. Ia bahkan bisa tidur di gubuk kecil di atas bagan. Ia seakan percaya sepenuhnya pada bagannya.
Bagan memang telah menjadi bagian hidup para nelayan di Merak Belantung. Bagan dirakit dari kayu pohon kelapa. Diikat dengan tali kawat dan baut. Dipasang drum-drum pada kaki-kakinya agar dapat mengapung. Pembangunan bagan dikerjakan bergotong royong. Setelah selesai dibangun, bagan ditarik ke laut dengan kapal motor.
Ikan-ikan hasil tangkapan di bagan beragam, seperti ikan tanjan, teri, layur, dan lainnya. Banyaknya tidak sama setiap harinya. Kadang, hanya dua rombong atau bakul. Namun kadang, dapat mencapai puluhan rombong.
Ikan-ikan hasil tangkapan itu lalu diasinkan. Kemudian, dijual ke para pedagang pasar yang datang ke kampung nelayan. Hasil penjualannya untuk memenuhi kebutuhan hidup nelayan dan keluarganya.
Sang ksatria bagan tidak hanya ingin menjaga bagannya. Ia juga ingin menjaga lautnya. Bukan cuma karena laut penting bagi kehidupan nelayan bagan. Akan tetapi, agar keindahan laut tetap lestari. (lita)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar